Pengertian
Ornamen Nusantara
Ornamen berasal dari kata Ornare (latin), yang berarti menghias. Ornamen adalah komponen
produk seni yang ditambahkan atau sengaja dibuat untuk tujuan sebagai hiasan.
Berdasar pada pengertian diatas ornamen merupakan penerapan hiasan pada suatu
produk yang fungsi utamanya adalah untuk memperindah benda produk atau barang
yang dihias, selain itu juga mempunyai fungsi tertentu yang lebih spesifik.
Pada umumnya, benda yang dihiasi dengan ormnamen
biasanya adalah produk-produk kerajinan misalnya peralatan rumah tangga,
tembikar atau keramik, busana dan tekstil, perabot, sampai kepada
komponen-konponen arsitektur. Penambahan ornamen pada suatu produk diharapkan
memberikan penampilan yang lebih menarik (dari segi estetis) dan lebih bernilai
sehingga meningkatkan penghargaan terhadap produk yang bersangkutan, baik
secara material maupun spiritual.
Sebagai bentuk
distorsi, deformasi dan stilasi, penerapan ornamen yang ada tidak dapat dipisahkan
dari latar belakang sosial masyarakat yang bersangkutan karena merujuk pada
kekhasan dan keragamannya yang berbeda pada setiap daerahnya. Olehkarena itu,
ornamen nusantara memiliki ciri-ciri kedaerahan sesuai dengan cita rasa
masyarakat setempat.
Fungsi Ornamen Nusantara
Kehadiran sebuah ornamen
tidak hanya sebagai pengisi bagian yang kosong dan tanpa memiliki arti,
terlebih lagi karya ornamen peninggalan masa lalu. Berbagai bentuk ornamen
sesungguhnya memiliki beberapa fungsi, yakni :
1. Fungsi Murni Estetis
Merupakan fungsi ornamen hanya untuk memperindah
penampilan bentuk produk yang dihiasi sehingga menjadi sebuah karya seni. Contohnya, keramik, batik, tenun, anyaman,
perhiasan, senjata tradisional, peralatan rumah tangga,dll.
Tidak jarang sebuah produk
kerajian/kriya karena nilai estetisnya sangat sayang apabila digunakan untuk
memenuhi fungsi praktisnya. Sebagai contoh sebuah vas/piring karena ornamennya
yang indah akan sangat sayang apabila digunakan untuk keperluan praktis
sehingga akhirnya hanya untuk pajangan interior. Oleh karena itu, dapat ditarik
kesimpulan bahwa nilai estetis sebuah ornamen dapat mengubah fungsi praktis
suatu produk menjadi fungsi hias.
 |
| Gambar 1. Ornamen Flora pada Vas Bunga hanya sebagai unsur penghias untuk memperindah bentuk saja tanpa maksud dan fungsi tertentu . |
2. Fungsi Simbolis
Terkadang selain untuk menghias sebuah ornamen yang
digunakan mempunyai makna tertentu/menggunakan simbol-simbol tertentu. Pada umumnya dapat dijumpai pada produk-produk atau
benda-benda yang digunakan untuk upacara, atau benda-benda pusaka yang bersifat
keagamaan atau kepercayaan.
Ornamen yang menggunakan motif kala, naga, atau
burung misalnya, pada karya-karya masa lalu berfungsi simbolis. Motif kala pada gerbang/pintu candi merupakan
pengambaran muka raksasa sebagai simbol penolak bala. Naga dipandang sebagai
simbol dunia bawah dan burung dipandang sebagai lambang gambaran roh yang
terbang menuju surga serta simbol dunia atas/dunia para dewa.
Pada Regol (gerbang) Kemagangan di kompleks
keraton Yogyakarta, terdapat motif hias dua ekor naga yang berbelitan pada
bagian ekornya. Ornamen tersebut, selain sebagai tanda titimangsa (sengkalan/candrasengkala) berdirinya keraton, juga
merupakan simbol bersatunya raja dengan rakyat yang selaras dengan konsep manunggaling kawula-gusti dalam kepercayaan
jawa (Sunaryo, 2006: 5).
Dalam perkembangannya, segi simbolis pada ornamen
naga kehilangan maknanya, seperti ornamen dua ekor naga yang berbalikan arah
hadap untuk menghiasi gayor (gantungan gong pada gamelan), hiasan almari/kursi
dsb. kehilangan fungsi simbolis dan hanya untuk tujuan estetis/menghias saja.
 |
| Gambar 2. Ornamen naga dalam salah satu sudut keraton Yogyakarta digunakan sebagai sengkalan/sengkalan memet (simbol penunjuk angka tahun) dengan arti "dwi nogo roso tunggal" menujukan tahun 1692. |
3. Fungsi Konstruktif
Secara stuktural ada kalanya sebuah ornamen
berfungsi teknis untuk menyangga, menopang, menghubungkan, atau memperkokoh
konstruksi. Contoh penerapannya pada tiang bangunan, talang air,
bumbungan atap, tidak saja untuk memperindah melainkan juga berfungsi
konstruksi.
 |
| Gambar 3. Ornamen Kala yang disamarkan menjadi ornamen sulur di Masjid Menara Kudus tidak hanya untuk memperindah tempat Wudhlu saja melainkan sebagai tempat talang keluarnya air Wudhlu. |
 |
| Gambar 4. Penggunaan ornaman kala sebagai talang air juga digunakan pada candi Borobudhur. |
Motif Ornamen Nusantara
Motif
merupakan unsur pokok dalam ornamen, karena dengan motif ornamen tersebut dapat
dikenali, karena merupakan gubahan bentuk-bentuk/representasi dari alam. Akan
tetapi ada pula yang merupakan hasil khayalan yang bersifat imajinatif, bahkan
karena tidak dapat dikenali kembali, gubahan suatu motif menjadi bentuk
abstrak.
Dalam ornamen, Pola
merupakan pengulangan motif/motif yang di ulang-ulang secara struktural.
Berdasarkan motif hias/pola bentuknya ornamen nusantara secara sederhana dapat
dibagai menjadi 2 (dua) jenis, yaitu :
1. Ornamen Geometris
Tersusun atas garis-garis dan raut/bangunbidang
geometri (persegi, lingkaran,segitiga oval dan sebagainya). Dengan demikian
ornamen geometris memiliki struktur yang terdiri atas garis-garis lurus/lengkung
dan raut bersudut/lingkaran. Dilihat dari coraknya, ornamen geometris berbentuk
abstrak/semi-abstrak, bentuknya tidak dapat dikenali sebagai bentuk obyek-obyek
alam.
2. Ornamen
Organis
Motifnya melukiskan obyek-obyek di alam dan dapat dikenali kembali bentuk
obyek asalnya.
Motif
Geometris
Motif geometris merupakan motif tertua dalam ornamen
nusantara karena sudah dikenal sejak zaman prasejarah. Terbukti bahwa beberapa
ornamen geometris sudah ada dalam artefak-artefak kebudayaan Dongson seperti
nekara perunggu (nekara bulan pejeng bali) dan kapak penrunggu (candrasa) dari pulau Roti.
Sejumlah
ornamen geometris antara lain adalah meander, pilin/lereng, banji, kawung dan
tumpal. Jenis jenis Motif Geometris :
1. Motif Meander
Motif Meander merupakan hiasan pinggir yang berbentuk garis
berliku/berkelok. Meander artinya adalah kelokan aliran sungai. Motif ini
berasal dri kebudayaan Yunani yang kemudian dibawa ke Tiongkok. Bentuknya
beragam, dimulai dari bentuk sederhana yaitu konfigurasi huruf U, n, J, T (berkebalikan) yang patah/meliuk-liuk dan
bersambung.
Pada masa prasejarah motif meander digunakan untuk
menghias tembikar & bejana perunggu (Sunaryo, 2006:12).
  
 |
| Gambar 8. Berbagai variasi bentuk motif meander. |
 |
| Gambar 6. Variasi bentuk motif meander |
|
|
2. Motif Pilin dan Lereng
Bentuk dasar
motif pilin merupakan garis lengkung spiral atau lengkung kait. Beberapa
motifnya dapat dibedakan menjadi motif tunggal yang berbentuk ikal, pilin
gandayang berbentuk huruf S, dan pilin tegar yaitu pola ikal bersambung dan
bergantian arah yang kemudan berkembang menjadi motif sulur, disusun secara
berulang berderet sambung menyambung.
Motif lereng memiliki bentuk
atau pola dasar garis-garis miring sejajar, yang terdapat pilin kait/pilin
ganda yang telah mengalami perkembangan. Contohnya motif lereng terdapat batik yang dikenal dengan
sebutan parang (Sunaryo, 2006:13).
  |
| Gambar 9. Bentuk dasar motif pilin |
 |
| Gambar 10. Motif pilin dalam batik parang |
3. Motif Swastika/Banji
Motif ini hanya dikenal di Jawa namun mendapat
pengaruh dari Tiongkok. Kata banji pada awalnya adalah bahasa Tiongkok wan-ji. Memiliki bentuk dasar garis tekuk bersilangan
mirip bentuk baling-baling seperti motif sawstika,
karena itu disebut juga sebagai motif swastika. Di suku Toraja motif yang serupa dengan motif banji
disebut sekong sala (palang berkait)
yang mengandung makna peringatan, agar tidak mencampuri urusan orang lain (Sunaryo, 2006:13).
   |
| Gambar 11. Berbagai variasi bentuk motif Banji/Swastika |
4. Motif
Kawung
Motif kawung
terbentuk dari bentuk-bentuk lingkaran yang saling berpotongan berjajar ke kiri
atau kanan dan ke bawah atau atas. Istilah kawung dalam bahasa Sunda berarti
buah aren. Motif kawung banyak dijumpai di batik Jawa dan sudah digemari sejak
jaman klasik, bahkan para Punakawan dalam wayang kainya bermotif kawung.
Di suku Toraja, motif serupa
kawung disebut pa’bombo uai yang
berarti binatang air. Motif ini memiliki makna nasihat agar giat berkerja tak
bermalas-malasan, sesuai ungkapan siapa cepat dapat dan sebagai simbol
ketabahan. Motif lain yang hampir sama dengan motif kawung
adalah motif jlamprang, yang juga
banyak dijumpai pada batik (Sunaryo, 2006:14).
5. Motif Tumpal
Memiliki bentuk dasar bidang segitiga, yang biasanya membentuk pola
berderet, dan sering digunakan sebagai hiasan tepi. Banyak dijumpai pada batik,
terutama batik pesisir yang banyak mendapat pengaruh dari Tiongkok.
Di Sumatra Barat motif serupa tumpal disebut pucuak rebuang
melambangkan/nasihat agar hidup berguna bagai rebung yang tumbuh menjadi bambu
yang berguna bagi manusia.
Di Tapanuli Selatan disebuat dengan motif bindu yang mempunyai makna bahwa
semua pekerjaan harus berpijak pada adat. Di Batak Simalungun motif tersebut
disebut ipon-ipon yang berarti gigi-gigi, yang melambangkan keramahan dan menghormati orang
tua (Sunaryo, 2006:14).
 |
| Gamba 14. Berbagai macam bentuk variasi motif Tumpal |
 |
Gambar 15. Variasi Motif Tumpal dalam kain batik.
|
Daftar Pustaka :
1. Sunaryo, Aryo. 2007. Ornamen Nusantara. Semarang :
Jurusan Seni Rupa UNNES
2. Gambar diolah dari berbagai sumber.